Cerita Sex Lima Setengah Bagian Satu

Cerita Sex Lima Setengah Bagian Satuby adminon.Cerita Sex Lima Setengah Bagian SatuEnam BAB I Lima Setengah Bagian Satu Rian mulai membuka matanya, tugas yang dia selesaikan tadi malam benar-benar membuat dia harus begadang sampai jam 4 pagi. Setelah percobaan tidur yang gagal, akhirnya dia memutuskan langsung ke kamar mandi. Tugas Matematika dari guru killer, Pak Bonang, ya gak killer-killer banget sih, cuman punya kebiasaan menyimpan siswanya […]

tumblr_nvysa3lsyp1tp7wv0o6_400 tumblr_nvysa3lsyp1tp7wv0o7_400 tumblr_nvysa3lsyp1tp7wv0o8_500Enam

BAB I
Lima Setengah Bagian Satu

Rian mulai membuka matanya, tugas yang dia selesaikan tadi malam benar-benar membuat dia harus begadang sampai jam 4 pagi. Setelah percobaan tidur yang gagal, akhirnya dia memutuskan langsung ke kamar mandi. Tugas Matematika dari guru killer, Pak Bonang, ya gak killer-killer banget sih, cuman punya kebiasaan menyimpan siswanya di tengah lapang dan menghormat tiang bendera selama jam pelajaran. Jam sudah menunjukan pukul 6.15 ketika Rian hendak pergi sekolah, “santai” gumannya. Jarak kostan Rian ke sekolah memang tidak jauh, 10 menit menggunakan motor kesayangannya juga udah nyampe kantin malah .

Seperti biasa, guru olahraga itu sudah berdiri di depan gerbang. Pak Ujang berdiri dengan tampang menyeramkan dengan senyum paksaan. Setelah merapikan motor di parkiran, Rian langsung menuju tempat favoritnya. Kantin sekolah. Sambil menyapa ke bu Nunung penjual soto, dia langsung ke kedai mang Encang, membeli sebungkus nasi kuning.

“Woi, pagi-pagi udah memamah biak begini.” Revi, sahabat Rian, satu dari 5 setengah bersahabat. Satu lagi disebut setengah karna anak yang bersangkutan jarang masuk sekolah. Revi, wanita yang selama ini selalu ada dalam mimpi-mimpi Rian, baik yang kering maupun yang basah. Objek onani dan sahabat sejati. “Maklum lah Vi, anak kost.” “Alesan, bilang aja cari makanan kantin sekolah biar murah. Lagian kita kan udah tau semua Yan, kasbon kamu di mang Encang udah berapa? Hahaha.”
“Sialan.” Umpal Rian, “Gak gede-gede banget kali, masih dalam tingkat yang wajar. Gak kaya tabungan soto si Udin di bu Nunung.”
“Ya deh, iyaaaaaaaa. Eh, pe er udah Yan?” “Ya udah lah, napa? Mau nyontek? Mau bayarin nasi ini dulu ga?”
“Ogah.” Jawab Revi, “Lagi seret uang nih. Pe er mana pe er? Ada dua nomor yang belum.” Rian lalu memberikan buku Matematikanya. Sebenernya dalam hati Rian selalu berkata kapan saja kalo Revi meminta sesuatu, pasti, apapun yang kamu minta Vi. Namun itu tentunya hanya dalam hati. Revi, gadis cantik dengan tinggi sekitar 160 cm. Alis matanya yang lurus, hidungnya yang mancung, matanya yang teduh, dan yang paling utama, bibirnya yang sensual. Ingin sekali Rian melumat bibir itu. Mengelus rambut yang berada di balik jilbabnya, dan meremas buah dada Revi yang bulat sempurna.

==========================================

“Sakit Bim, pelan-pelan.” Yuni berteriak kecil kala Bima menyedot buah dada Yuni sebelah kanan. Bima hanya tersenyum kecil dan tetap menyedot puting Yuni dengan penuh nafsu. Tangan kanannya merayap melewati perut Yuni yang rata dan menyelusup ke pantat Yuni, mencari resltering di rok SMA nya. Membukanya, dan langsung menarik rok SMA Yuni ke bawah melewati lutut Yuni. Yuni sedikit membantu dengan mengangkat pantat. Tangan Bima langsung diarahkan ke selangkangan Yuni yang sudah basah sedari tadi, setelah dicumbu selama setengah jam lebih, pastilah cairan vagina Yuni sudah keluar banyak.

Jari tengah Bima mulai digesek-gesekkan di belahan vagina Yuni. Basah. Dan Yuni semakin menggeliat. Jari-jari Bima mulai menyingkirkan bagian celana dalam yang menghalangi belahan vagina Yuni. Dengan sekali hentak, jari telunjuk Bima mulai menikmati liang vagina Yuni. Gemas, Bima mempercepat frekuensi kocokan jari tengahnya. “Bim, pelan Bim, aaahhh, Bimmmmm …. , Bimaaaa.”
“Yunnn.” Bibir Bima melumat bibir Yuni, “Mmpphhpfff … ” Bibir mereka saling berpagut, lidah pun saling bergumul di dalam mulut. Air liur mereka mengalir melalui sela bibir.

“Bimaaa, Yuni mau …. aaaahhhh …. ” Gelombang orgasme melanda Yuni. “Keluar Yun?” Dan Yuni pun mengangguk.
“Udah siap ya?” Tanya Bima lagi. Pelan Yuni mengangguk. “Tapi pelan-pelan Bim, lemes banget.” Bimapun langsung membuka celana seragam dan celana dalamnya. Dia memposisikan badannya di atas Yuni. “CD Yuni nya buka dulu Bim.” “Gak usah sayang, biar saya entot kamu dengan CD kamu masih dipake, saya singkirkan aja dikit ke pinggir.”

Perlahan Bima mulai memasukan penis nya ke dalam vagina Yuni, pelan, dan blessss. Masuk semua. “Bimaaaa.” Rintih Yuni, “Katanya pelan-pelan, aaaahhhhhh, Bim, ah.” Tanpa memberikan jawaban, Bima mulai menggenjot vagina Yuni. Tak berselang lama, keringat sudah membasahi tubuh mereka berdua.

Masih jelas diingatan Bima, bagaimana dia pertama kali menikmati vagina Yuni. Yuni, salah satu siswi cantik disekolahnya, dengan rambut hitam lurus sepunggung, wajah cantik sedikit oriental walaupun Sunda asli, badan yang kurus tinggi dan langsing, berkulit putih bersih, namun memang ukuran buah dadanya tidak begitu besar, namun pas digenggaman Bima. Perempuan yang jadi incaran para lelaki di sekolah. Di sini, di atas ranjang tanpa dipan Bima, Yuni pertama kali dinikmatinya, walaupun sudah bukan perawan, karena keperawanannya sudah diambil oleh pacar Yuni saat ini, ya, mereka kini hanya menikmati seks tanpa ikatan kekasih, namun itu bukan masalah bagi Bima, seks bukanlah hal baru apalagi tabu buatnya.

“Bim, ahh, Bim, Yuni mau keluar lagi Bim. Ahhhh.” Rintihan Yuni semakin terdengar menggairahkan, menambah nafsu Bima yang mempercepat kocokan penisnya dalam vagina Yuni, “Keluarin aja Yun, ugh, memek kamu masih rapet juga, padahal udah di entot berapa kali Yun?” Tanya Bima. “Gak tau, sama kamu baru dua kali dengan ini, ama Satrio udah, aahhh, tiap malem … ahhhhkkk Bima, pelan-pelan, malem minggu, kalo Yuni gak dapet. Bim, keluar Bim, keluaaaarrrrr….” Tubuh Yuni menekuk, tegang, dan Bima langsung meremas sekeras-kerasnya kedua buah dada Yuni, menambah kenikmatan orgasme yang dirasakan oleh Yuni.

“Cape Yun? Saya belum mau. Bentar ya? Tahan.” Pinta Bima, Yuni cuman bisa diam. Dan Bima membalikan badan Yuni, telungkup. Dia lalu menyimpan sebuah bantal di perut Yuni. “Lubang ini udah pernah dimasukin Yun?” Tanya Bima waktu jarinya menyentuh anus Yuni. “Belum, takut. Katanya sakit banget.” “Owww, baguslah, tar bagian saya, hahahahaha.” Bima tertawa “Enak aja, sakit tau, gak mau.” Jawab Yuni ketus. “Kata si Lia anak IPS 1 sakiiiiittttt, Bima, bilang-bilang dong kalo mau masuk!” Teriak Yuni, ketika tiba-tiba Bima memasukan penisnya ke vagina Yuni. Bima hanya tertawa. “Ah, bohong dia, ugh, soalnya, hmppf, saya udah pernah nyobain.” “Serius Bim? Lia udah kamu cobain pantatnyaaaa? Agh, pelan sayang. Kirain kamu gak suka ama cewek pake kerudung.” Sela Yuni diantara rintihannya. “Saya suka siapapun yang cantik, kaya kamu Yun, ah, Yun, dah mau keluar nih, keluarin dimana?” Tanya Bima dengan cepat. “Di dalem aja Bim, lagi pake pil kok, ah, ah, Bim, bentar Bim, tahan dulu, Yuni dah mau keluar lagi, bareng Bim, Bim, ah, Bimaaa, keluarrrrrrrrr….!” Dan mereka pun merasakan orgasme yang dahsyat pada saat yang hampir bersamaan.

“Gila Yun, memek kamu bener-bener.” Merekapun berpelukan. Sisa-sisa air mani dan cairan kewanitaan Yuni meleleh keluar dari vaginanya. Dan Bima mencium bibir Yuni dengan lembut. Hmmm, ciuman ini, ini yang membuat Bima berbeda dengan pacarnya yang selalu langsung tidur, atau langsung meninggalkan Yuni sendiri tanpa ciuman ataupun pelukan setelah berhubungan badan.
“Bim, ini yakin gak apa-apa kita bolos? Ya, kamu sih udah disebut setangah ama gengmu malah, gara-gara jarang sekolah. Nah Yuni kan engga.” Tanya Yuni beberapa saat kemudian. “Gak apa-apa. Nyantey aja, justru dengan gini kita punya waktu lama buat maen.” Jawab Bima.
“Habis dah kalo gini badan Yuni. Terserah deh, tapi inget, jangan ampe ada bekas cupang, tar Satrio curiga.” Sambut Yuni, dan Bima hanya bisa tersenyum sambil kembali menindih tubuh mulus Yuni.

==========================================

Revi memandangi kursi kosong di seberang ruangan. Bima, sahabat mereka satu geng. Dan kursinya yang kosong, sekosong hati Revi saat ini. Sama kosongnya dengan hati Rian yang diam-diam memperhatikan Revi. Namun secepat kilat dia memalingkan wajah ketika Revi melihat ke arahnya. “Revi, apa dia ada hati ama Bima?” Batin Rian, karena hampir setiap hari jika Bima tidak masuk, Revi selalu melihat kursi kosong itu.

Rian, Revi, Ima, Gusti, Udin dan Bima. Lima setengah, julukan dari wali kelas mereka. Selalu bersama, dan selalu terlihat kompak. Waktu kelas XI, ketika mereka pertama kali dipertemukan, yang ada hanyalah Enam Sahabat, namun setelah orang tua Bima, bercerai, sosok Bima perlahan mulai menghilang namun selalu ada bagi mereka.

Sama halnya seperti hari ini, Bima masih belum masuk. Biasanya dalam satu minggu, Bima paling tidak masuk 3 hari, namun ini sudah hari ke empat. Udin pernah berkata bahwa Bima itu adalah sebuah anomali, anak orang kaya, pinter, ganteng, tapi pemalesan. Tapi bagian anomalinya ialah dia pandai menarik hati guru, segala urusan jadi mudah kalo ada Bima. Dan yang pasti, bu Nunung gak akan nagih uang soto ke Udin kalo Bima ada, karena Bima selalu ngebayarin dia. “Seneng ada temen untuk bisa berbagi.” Jawab Bima. Selalu saja seperti itu.

Tak terasa, bel tanda pelajaran berakhir berbunyi, tanpa dikomando, anak-anakpun langsung berhamburan keluar kelas. Namun Ima masih duduk di bangkunya, termenung. Sampai pundaknya ditonjok Gusti, “Woi, makhluk tercantik se kelas, ngapain lu bengong sendiri?” Ya, Ima memang lebih cantik dibandingkan Revi bahkan dibandingkan dengan semua siswi di kelas mereka. Dengan warna kulit yang lebih putih dari Revi, karena ada turunan china dari neneknya, dan hidung yang lebih indah, bahkan semuanya yang ada di diri Ima memang lebih cantik dari Revi, cara dia menggunakan kerudungnyapun yang selalu sederhana malah membuat dia lebih cantik.

Ya, guman Rian, namun Revi tetap yang terindah dihati ini. Ima dan Revi, dua wanita dalam geng. Keduanya berkerudung. Sama-sama gila kalo udah kumpul-kumpul. Cantik-cantik, walopun kata Udin bukan selera dia. Udin lebih menyenangi perempuan dengan potongan rambut pendek dan sedikit tomboy. Hampir semua mantannya seperti itu. Hanya satu yang tidak. Gusti sendiri, entah makhluk apa Gusti ini. Berbadan tegap dan kekar. Baik hati. Ganteng. Banyak perempuan yang suka, namun sepanjang sepengetahuan para sahabatnya, belum sekalipun dia menjalin cinta. Ima sendiri saat ini sedang memadu kasih dengan kaka kelas yang sekarang sedang kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di kota Bandung ini. Dan Revi? Bidadari hati ini memiliki masa lalu yang pahit dalam percintaan. Lalu Bima, ya, makhluk ini bisa saja mendapatkan siapa saja yang dia mau. Dan dia sendiri? Rian berfikir, selalu saja ada Revi. Dari pertama kali dia melihat wajahnya ketika MPLS, sampai sekarang. Hanya ada Revi, namun dia tidak berani untuk melangkah.
“Gustiiiii, sebel. Ngapain ganggu?” Teriak Ima. “Jangan gangguin Ima Gus, lagi ada masalah dengan masnya.” Jelas Revi, “Udah sana, kejar dulu pak Guntur, itu tugas kamu kumpulin.” Lanjutnya.

“Kenapa Ma?” Revi bertanya ketika semua sudah keluar kelas. “Mas Gio, mmm, jangan bilang siapa-siapa ya? Janji?” Revi mengangguk. “Kemarin dia minta, hmmmm, kamu tau kan Vi, Ima baru ampe ciuman dan mmm, paling jauh remes dada Ima dari luar. Kemaren dia udah ngedapetin dada Ima dari dalem, udah nyedot puting Ima, terus, ini, nyupangin.” Revi tersenyum dan bertanya “Cuman gitu aja Ma?” Ima menjawab, “Nah, engga Vi, dia minta ngemut punya nya dia. Ima takut, bilang gak mau.” Revi kembali tersenyum, “Jadi dia pundungceritanya ?” Lanjutnya. “Pundung beneran, bukan ceritanya neng. Gak enak sih, pengenna muasin mas Gio, tapi takut”. Revi memeluk sahabatnya ini dan berkata “Nyantey aja Ma, kalo dia sayang ama kamu, dia pasti biasa lagi, cowok emang kaya gitu.” Ima lalu memandang tajam ke arah Revi, “Kamu pernah Vi kaya gitu?”. Revi tertawa, “Eeeee, gimana ya? Belum si, tapi kalo ampe pas foto sih udah lah. Hahahaha. Tapi gak pernah ampe dicupangin kaya kamu ya. Gak leveeeelll, aduh.” Ima menutup perkataan Revi dengan cubitan di tangan. “Ngomong-ngomong,” Lanjut Revi kemudian,”Enak gak diemut Ma?”. Dengan tersipu Ima menjawab, “Banget.”

—bersambung—

Author: 

Related Posts